Galery

Upacara Bendera



Manfaat Mengikuti Upacara Bendera Bagi Motivasi Belajar Siswa


Upacara bendera adalah rutinitas yang hampir dilakukan oleh setiap sekolah pada hari Senin. Pada saat siswa mengikuti upacara bendera, biasanya mereka merasa kesal karena capek berdiri berlama-lama, kepanasan, punggung terasa pegal, dan berbagai keluh-kesah lainnya. Tapi dengan pengorbanan tersebut apakah kegiatan upacara bendera membawa manfaat?




Upacara sebenarnya menjadi bagian dari interaksi edukatif. Upacara juga menjadi instrumen atau alat yang cukup efektif untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai tertentu serta upaya mengaktualkan potensi-potensi anak didik. Nilai-nilai yang bisa kita dapatkan dari kebiasaan upacarab bendera antara lain:

1. Menumbuhkan potensi kepemimpinan.

Setiap siswa secara bergilir diberi kesempatan untuk tampil memimpin upacara. Sebagai pemimpin upacara, mereka dituntut untuk mampu tampil memimpin upacara. Sebagai pemimpin upacara, mereka dituntut mampu memberikan aba-aba tertentu, dalam satu tahun ajaran seorang siswa dapat memperoleh kesempatan sekali memimpin temannya.

2. Membangun rasa percaya diri.

Pengalaman membuktikan sebagian siswa masih mengalami demam panggung ketika harus tampil memimpin. Namun, umumnya sikap grogi tersebut akan hilang saat mendapat giliran untuk yang kedua kali dan seterusnya.

3. Membiasakan hidup tertib dan disiplin.

Pada sebuah kegiatan upacara, terdapat aba-aba, ketertiban, disiplin berbaris dan tata cara yang baku untuk peran pemimpin dan yang dipimpin. Ketika seseorang berperan memimpin harus bisa memainkan peran sesuai posisinya. Begitu juga yang berposisi sebagai yang dipimpin.

4. Belajar bersosial dengan lingkungan.

Dari kegiatan upacara diharapkan tumbuh kesadaran bahwa pada setiap kelompok sosial, demi tertib sosial terdapat aturan atau norma yang bersifat memaksa sebagai konsekuensi memasuki suatu kelompok sosial.

5. Menumbuhkan semangat kebersamaan.

Dalam posisi upacara, untuk melanjutkan ke gerakan atau aba-aba berikutnya ditempuh jika aba-aba sebelumnya telah sepenuhnya dilaksanakan. Saat terdapat sebagian siswa yang tidak mematuhi aba-aba, maka gerakan tersebut tidak bisa dikatakan sempurna. Melalui pembiasaan yang demikian, diharapkan tumbuh kesadaran akan kebersamaan.

6. Membangun sikap tenggang rasa.

Sekali lagi pengalaman membuktikan meski seseorang sebelumnya sudah mempersiapkan diri namun ketika tampil memimpin seringkali masih melakukan kekeliruan. Ternyata berperan sebagai pemimpin tak semudah menerima atau melaksanakan aba-aba. Pengalaman-pengalaman seperti ini akan menumbuhkan kesadaran tenggang rasa.

7. Belajar bertanggungjawab.

Terdapat sejumlah hal yang harus dilaporkan seperti jumlah, kurang, hadir, dan keterangan masing-masing yang berhalangan hadir. Pemimpin harus secara akurat melaporkannya kepada guru. Yang demikian maksudnya untuk menumbuhkan sikap koreksi dan tanggungjawab.